Krisis Pangan Akibat Konflik Rusia-Ukraina, Ini Tanggapan Menteri Pertanian BEM UHO

Yus Asman

SiberSultra.id, Kendari – Organisasi pangan dan pertanian PBB (The Food and Agriculture Organization/ FAO) menyebutkan, krisis pangan adalah kondisi ketika terjadi kerawanan pangan akut dan malnutrisi yang meningkat tajam, baik di tingkat lokal maupun nasional. Hingga membutuhkan pemenuhan kebutuhan melalui bantuan makanan darurat.

 

Ancaman krisis pangan di depan mata. Krisis pangan yang disebabkan perang antara Rusia dan Ukraina menjadi tantangan tersendiri bagi sejumlah negara tak terkecuali Indonesia.

 

Hal itu disampaikan oleh Menteri Pertanian Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Halu Oleo (BEM UHO) Randy Agung Nugraha Kepada Awak Media.Rabu (29/6/2022).

 

“Krisis pangan ini terjadi secara global di karenakan dari dampak perang antara dua negara produsen dan eksportir komoditas utama dunia yaitu Rusia dan Ukraina.

Kejadian ini membuat kegiatan produksi dan distribusi berbagai komoditas menjadi mandek seperti minyak,gas dan berbagai pangan lain yang berasal dari dua negara tersebut,”ujarnya

 

Menurutnya, Kejadian ini dapat kita rasakan di Lingkungan keseharian kita dimana berbagai bahan pangan mengalami kelangkaan dan kenaikan harga.

BACA JUGA:  2 Korban Meninggal Akibat Curas, Polda Kalbar Ringkus Pelaku

 

Randy Agung menjelaskan bahwa Kepala Biotech Center IPB University dan Research Associate CORE Dwi Andreas Santosa mengatakan, krisis pangan terjadi jika terjadi peningkatan harga secara bersamaan dengan anjloknya harga komoditas jenis biji-bijian (serealia) dunia. Yaitu, gandum, beras, jagung, dan biji-bijian lainnya yang tak hanya menjadi sumber pangan utama, juga untuk pakan dan energi.

 

Ditahun 2022 Rusia dan Ukraina sebagai bagian dari negara-negara pemasok utama pangan dan biji-bijian seperti gandum dan jagung.Ia berpendapat Jika Perang terus berlanjut, dunia akan kehilangan produksi sekitar 60 juta ton gandum, 38 juta ton jagung, dan 10,5 juta ton barley.

 

“Juga pasokan minyak nabati. Perang Rusia-Ukraina mengubah pola perdagangan, produksi, dan konsumsi berbagai komoditas. Akibatnya, sejumlah komoditas cetak harga rekor di tahun 2022,”ungkapnya

 

Sulawesi Tenggara (Sultra) sebagai salah satu Provinsi yang terletak di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang notabenenya termasuk sebagai wilayah Agraris juga akan merasakan hal tersebut.

BACA JUGA:  Cek Penataan Kota Medan, Presiden Jokowi: Akan Ciptakan Perubahan Besar

 

Selaku Menteri Pertanian BEM UHO Randy Agung Nugraha berpendapat bahwasannya hal tersebut merupakan sebuah tantangan sekaligus peluang bagi kita para masyarakat yang notabenenya sebagai pelaku pertanian agar menanam bahan-bahan dasar pangan.

 

“seperti kedelai,sagu,singkong dan lain sebagainya dengan jumlah yang lebih banyak dari sebelum sebelumnya kemudian dilakukan cara pengolahan seperti diversifikasi pangan Agar kita tidak ketergantungan terhadap kondisi dan situasi yang terjadi saat ini, Yang intinya kita harus memperkuat Pertanian dalam negeri,”terangnya

 

Maka dari itu Randy berharap kepada Pemerintah agar selalu mengawal dan memperhatikan para petani indonesia dalam proses memproduksi hasil pertanian dan terus menjaga kestabilan kurva produksi pertanian agar tetap terjaga sehingga Indonesia tidak merasakan dampak yang begitu signifikan dari kejadian global yang terjadi saat ini.

 

Dan Mendengar kabar Menteri Pertanian RI Bapak Syahrul Yasin Limpo yang di minta langsung oleh BUMN China untuk mengekspor sebanyak 2,5 Ton selama setahun di Negara Tirai Bambu tersebut.

BACA JUGA:  Bupati Butur Ridwan Zakariah Terima Penghargaan Universal Health Coverage Award

 

“Hari ini, saya tidak sangka, BUMN China datang ke kantor dan dalam minggu ini akan menandatangani MoU untuk siap menerima beras kita,” kata Mentan RI, Rabu (8/6/2022).

 

Randy beranggapan jika krisis pangan benar benar terjadi maka suatu langkah yang tepat jika jumlah produksi dan mutu pertanian di Indonesia harus di tingkatkan.

 

“Agar kebutuhan dalam negeri dapat terpenuhi, begitu juga permintaan dari BUMN China yang meminta agar Indonesia dapat mengekspor beras sebanyak 2,5 Ton selama setahun,”tutupnya

 

Laporan : Umar Saleh

Total Views: 573 ,

Comment